Home ยป Brand Repositioning: Waktunya Ubah Arah, Biar Brand Kamu Nggak Nyasar

Brand Repositioning: Waktunya Ubah Arah, Biar Brand Kamu Nggak Nyasar

Pernah nggak sih ngerasa brand kamu kayak jalan di tempat? Udah posting tiap hari, promo rajin, tapi hasilnya gitu-gitu aja? Bisa jadi masalahnya bukan di eksekusinya, tapi dari fondasi branding-nya yang kurang tepat dari awal.

Atau bisa juga, pasar berubah—tapi kamu masih pakai cara lama. Di sinilah brand repositioning jadi jalan keluar yang masuk akal.


🔄 Apa Itu Brand Repositioning?

Sebelum kamu ambil langkah repositioning, penting banget untuk tahu sebenarnya apa sih makna istilah ini.

Brand repositioning adalah proses mengubah arah brand positioning yang kamu bangun di awal—baik dari sisi pesan, target audiens, manfaat produk, hingga nilai yang kamu tawarkan—agar bisa menyatu dengan kebutuhan pasar atau perilaku konsumen yang terus berubah.

Tujuannya? Supaya brand kamu terasa lebih segar, lebih relevan, dan lebih nyambung—baik untuk audiens baru maupun ekspektasi zaman sekarang.

Jadi, ini bukan sekadar ganti logo atau slogan—tapi mengatur ulang persepsi orang terhadap siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan.

Biasanya repositioning dilakukan kalau:

  • Strategi branding awal kurang tepat atau nggak nyambung ke audiens
  • Ada pergeseran besar dalam tren, perilaku pasar, atau kompetisi

Butuh pemahaman dasar dulu soal branding? Baca panduan lengkapnya di sini 👉 Panduan membangun branding


🚧 Kenapa Brand Repositioning Bisa Jadi Perlu?

Strategi branding yang dulu mungkin udah nggak relevan sekarang. Dan sayangnya, banyak brand baru sadar setelah penjualan turun drastis.

Bisa karena strategi branding dari awal salah arah

  • Target audiens nggak jelas, jadi pesannya membingungkan
  • Visual branding nggak mencerminkan kepribadian brand
  • Value proposition nggak kuat atau terlalu generik

Atau… karena situasi pasar berubah

  • Konsumen makin sadar dan picky
  • Muncul kompetitor yang lebih agile dan relate
  • Perubahan tren dan gaya hidup bikin brand kamu “kurang nyambung”

Di titik ini, brand repositioning bukan cuma pilihan—tapi kebutuhan.


🎯 Langkah-Langkah Brand Repositioning yang Relevan

Repositioning bukan soal ganti logo atau nama doang. Ini soal mengatur ulang cara brand kamu berbicara, berjanji, dan hadir di kepala orang.

🔗 Baca Juga: Cara Membangun Brand Equity yang Bikin Produk Kamu Layak Dibayar Mahal

1. Lakukan Brand Audit Secara Jujur

  • Apa citra brand kamu sekarang di mata konsumen?
  • Apakah sesuai dengan visi awal?
  • Elemen visual dan komunikasi masih relevan?

2. Tentukan Target Audiens Baru (Atau Perbarui yang Lama)

  • Apakah kamu masih relevan buat audiens lama?
  • Apakah ada segmen baru yang lebih potensial?
  • Apa perubahan perilaku konsumen sekarang?

Kamu bisa pakai tools seperti buyer persona atau social listening buat nyari insight-nya.

3. Perjelas Value Proposition Baru

Value proposition itu janji utama brand kamu—apa yang kamu kasih dan kenapa mereka harus peduli.

  • Apakah kamu lebih praktis? Lebih hemat? Lebih stylish?
  • Pastikan janji ini terasa unik, jelas, dan nyambung sama kebutuhan audiens baru.
🔗 Baca Juga: Branding Bukan Sekadar Logo: Panduan Lengkap Membangun Brand yang Nempel di Kepala

4. Revisi Identitas Visual & Tone of Voice (Kalau Perlu)

Gak harus ganti semua, tapi kalau visual udah outdated, tone terlalu formal, atau style-nya nggak relate sama market baru—ya udah waktunya refresh.

  • Gunakan warna dan font yang lebih cocok
  • Sesuaikan gaya bahasa di media sosial
  • Konsistenin semua touchpoint (dari website sampai kemasan)

5. Uji Coba Komunikasi Sebelum Full Launch

  • Luncurkan campaign kecil dulu
  • Tes A/B ads atau copywriting-nya
  • Ambil feedback dari konsumen loyal

Kalau semua oke, baru gas buat full repositioning.


😬 Tantangan Repositioning: Jangan Sampai Kehilangan Pelanggan Setia

Brand repositioning memang bisa bikin brand kamu relevan lagi—tapi jangan lupa, setiap perubahan besar pasti ada risiko. Salah satunya: kehilangan pelanggan lama yang udah nyaman dengan versi brand kamu yang dulu.

Nah, sebelum kamu ganti warna, ubah kemasan, atau bahkan ngulik ulang manfaat produk, pastikan kamu tahu siapa aja yang bakal terdampak—dan seberapa besar pengaruhnya ke bisnismu.

Kenali Dulu: Siapa Pelanggan Loyal Kamu?

Salah satu kesalahan paling sering terjadi saat repositioning adalah lupa bahwa ada kelompok konsumen yang sudah cinta mati sama versi lama brand kamu.

Makanya sebelum ubah arah:

  • Lihat data pembelian atau penggunaan layanan selama 6–12 bulan terakhir
  • Gunakan survei kepuasan atau polling singkat: “Apa yang paling mereka suka dari produk kamu?”
  • Lacak siapa yang sering repeat order dan engage di konten lama kamu
  • Cek berapa % pelanggan loyal yang merasa produk kamu sudah pas banget

Dengan begitu, kamu bisa tau:

  • Apakah kamu repositioning ke segmen yang lebih besar dan potensial?
  • Atau kamu justru bakal kehilangan market loyal yang selama ini jadi tulang punggung?
🔗 Baca Juga: Brand Voice: Suara yang Bikin Brand Kamu Dikenal & Dikenang

Karena Repositioning Nggak Cuma Soal Visual…

Kadang repositioning itu bukan sekadar ganti logo atau tone konten. Bisa juga:

  • Ganti rasa produk biar lebih kekinian
  • Ubah manfaat utama dari fungsional jadi emosional
  • Ubah segmen dari “ibu rumah tangga” ke “anak muda urban”

Dan itu semua nggak selalu diterima oleh konsumen lama.

Makanya penting buat positioning ulang dengan empati. Jangan sampai terlalu fokus ngejar pasar baru, tapi lupa sama mereka yang udah percaya dari dulu.


🤝 Gimana Cara Repositioning Tapi Tetap Jaga Pelanggan Lama?

Berubah boleh, tapi bukan berarti ninggalin. Nah, berikut beberapa strategi biar repositioning kamu tetap mempertahankan pelanggan loyal:

  • Libatkan pelanggan lama dalam proses: misalnya, kasih mereka sneak peek atau ajak dalam voting desain baru.
  • Buat transisi bertahap: jangan langsung ganti semua dalam semalam. Pelan-pelan kasih tahu perubahan lewat konten storytelling.
  • Jelaskan alasannya dengan transparan: biar mereka tahu kamu nggak asal berubah, tapi karena kamu peduli dan pengen lebih baik.
  • Sediakan pilihan: misalnya, tetap jual varian lama sambil memperkenalkan produk versi baru.
  • Tunjukkan nilai tambah: highlight apa yang baru dan kenapa itu bermanfaat, tapi tetap pastikan unsur kepercayaan lama nggak hilang.

Intinya: jangan cuma repositioning buat bikin heboh, tapi bikin perubahan yang tetap mempertahankan makna dan hubungan dengan audiens lama.


🧠 Studi Kasus Ringan: Brand-Brand yang Pernah “Ganti Haluan”

Belajar dari brand besar juga bisa kasih inspirasi.

Brand Dulu Sekarang Catatan Perubahan
Gojek Ojek online Super-app gaya hidup Narasi & positioning
Tokopedia Marketplace Pendukung UMKM & kreator lokal Emotional branding
Aqua Air minum kemasan Simbol hidup sehat dan keluarga Storytelling kuat
Levi’s Jeans cowok maskulin klasik Fashion inklusif & eco-conscious Target muda & values

Semua brand di atas repositioning bukan karena gagal, tapi karena mereka paham bahwa pasar nggak diam.


✅ Tips Biar Brand Repositioning Kamu Nggak Gagal Total

  • Libatkan konsumen dalam prosesnya, biar mereka merasa ikut punya
  • Komunikasikan alasannya dengan cara yang relate dan transparan
  • Perkuat campaign dengan storytelling, bukan cuma visual baru
  • Jalankan secara bertahap biar transisinya terasa alami
  • Konsistenin di semua kanal, jangan cuma ganti logo doang

🚀 Jadi, Brand Repositioning Itu Bukan Tentang Ubah Segalanya

Tapi tentang menemukan kembali cara terbaik agar brand kamu tetap relevan di dunia yang berubah cepat.

Kalau branding kamu dulu dibangun dengan asumsi yang udah nggak cocok, sekarang saatnya diperbaiki.

Karena lebih baik repositioning sekarang, daripada brand kamu perlahan hilang tanpa arah.


Apa Itu Brand Repositioning?

Brand repositioning adalah langkah strategis untuk mengubah cara brand dipersepsikan oleh konsumen. Tujuan utamanya adalah membuat brand lebih relevan, menarik audiens baru, atau memperbaiki citra yang sudah terganggu.

Kapan Sebaiknya Brand Repositioning Dilakukan?

Brand repositioning perlu dilakukan ketika ada stagnasi dalam pertumbuhan bisnis, citra brand mulai menurun, atau ingin merambah pasar baru yang belum tercapai dengan citra brand sebelumnya.

Apa Bedanya Repositioning dengan Rebranding?

Repositioning lebih fokus pada perubahan persepsi konsumen terhadap brand, sementara rebranding sering kali melibatkan perubahan visual seperti logo dan desain tanpa mengubah banyak pada inti brand.

Apa Saja Langkah-langkah dalam Melakukan Brand Repositioning?

Langkah-langkah tersebut antara lain:

  • Evaluasi posisi brand saat ini

  • Tentukan tujuan repositioning

  • Redefinisikan brand messaging

  • Perbaharui identitas visual

  • Komunikasikan perubahan secara terbuka kepada konsumen

Apa Manfaat Utama dari Brand Repositioning?

Brand repositioning membantu brand untuk tetap relevan, menarik audiens baru, memperbaiki citra yang buruk, dan menghindari stagnasi di pasar.

Drajad DK - Penulis Bisniz.id
โœ๏ธ Drajad DK
Penulis sekaligus pelaku usaha mandiri di industri kreatif sejak 2013, dengan pengalaman di bidang konveksi, digital printing, franchise kuliner, serta strategi pemasaran berbasis SEO dan SEM.
๐Ÿ”— Lihat Profil Lengkap