Kamu lagi kepikiran buat buka usaha keripik tempe? Mantap, itu ide yang nggak cuma gurih di lidah tapi juga bisa gurih di kantong!
Tapi sebelum mulai goreng-goreng, coba deh kamu pikirin satu hal penting: kamu mau jualan keripik tempe yang jadi lauk buat makan nasi, atau keripik tempe yang jadi cemilan seru buat temen rebahan?
Karena meskipun sama-sama keripik tempe, cara jualannya bisa beda banget.
Mulai dari:
-
🔧 Cara produksinya bisa beda—ada yang manual, ada juga yang pakai alat bantu produksi.
-
📦 Jenis kemasannya juga beda—yang satu cukup pakai plastik transparan, yang satu lagi butuh ziplock atau botol estetik.
-
💸 Harga jualnya pun beda—tergantung target pasar dan nilai tambah dari rasa atau tampilannya.
-
📢 Bahkan sampai ke cara promosinya—yang satu bisa cukup dititip di warung, yang lain butuh main di TikTok biar viral.
✨ Intinya, semua hal itu harus disesuaikan sama target pasar kamu. Biar kamu nggak cuma jualan, tapi juga nyambung sama kebutuhan pembelimu.
Jadi sebelum turun ke dapur, yuk tentuin dulu kamu mau masuk ke jalur yang mana: Tim Lauk atau Tim Cemilan?
🍽️ Keripik Tempe Buat Teman Makan Nasi
Kalau kamu pilih jadi penyedia lauk praktis, keripik tempe model ini cocok banget buat jadi pelengkap makan—apalagi buat mereka yang suka makanan kering, gurih, dan tahan lama. Biasanya, ini yang dicari:
Karakter Produknya:
-
Rasa netral atau sedikit asin
-
Potongan besar dan tebal, biar mantap digigit bareng nasi
-
Minyak nggak terlalu banyak, biar awet
-
Dikemas sederhana: plastik transparan, biasa dijual per 100–250 gram
Target Pasarnya:
-
Ibu rumah tangga
-
Warung makan atau pecel lele
-
Katering harian, nasi kotak, hingga kantin
Strategi Jualannya:
-
Titip di warung-warung kelontong
-
Kerjasama dengan katering atau warteg
-
Promosi di komunitas ibu-ibu atau grup belanja harian
-
Bisa juga dijual dalam bentuk paket lauk kering komplit
📝 Catatan penting: Pembelinya sering beli berkala. Kalau rasanya cocok, mereka bakal balik lagi dan beli banyak buat stok.
🍟 Keripik Tempe Buat Camilan Kekinian
Nah, kalau kamu lebih tertarik bikin keripik tempe yang fun & variatif, bisa banget main di jalur snack. Ini cocok buat yang suka ngemil sambil kerja, nonton, atau jadi oleh-oleh khas daerah.
Karakter Produknya:
-
Varian rasa ramai: pedas, balado, BBQ, keju, daun jeruk, dll
-
Tekstur super renyah, biasanya lebih tipis
-
Kemasan modern: pouch, botol kecil, atau zip lock estetik
-
Branding kreatif, bisa jadi konten di TikTok atau IG
Target Pasarnya:
-
Anak muda, mahasiswa, pekerja kantoran
-
Orang yang beli online buat stok camilan
-
Toko oleh-oleh, minimarket, reseller snack
Strategi Jualannya:
-
Bangun branding dari awal: nama, logo, dan kemasan kece
-
Jual via marketplace, reseller, dan pre-order WA/Shopee
-
Buat konten snack review bareng teman-teman
-
Bisa kasih bonus atau bundling (misal: “3 rasa hemat”)
📝 Catatan penting: Di sini, kemasan dan gaya jualan bisa ngaruh banget. Makin catchy tampilanmu, makin gampang viral!
🔗 Baca Juga: Jenis Usaha Makanan Ringan Serba Rp5.000 yang Laris dan Kekinian
🧠 Udah Kebayang Belum, Kamu Mau Jualan Apa?
Sampai sini, udah mulai kebayang kan kamu lebih sreg jualan yang mana? Mau jadi penyuplai andalan lauk kering buat nasi kotak dan warung makan, atau jadi brand snack tempe kekinian yang tampil estetik di marketplace?
Nggak ada yang salah, dua-duanya punya peluang dan pasarnya masing-masing. Yang penting kamu tahu jalur mana yang mau kamu garap duluan, biar semua strategi ke depannya bisa lebih fokus.
Ingat ya:
-
Kalau kamu suka yang praktis & fungsional, model lauk bisa jadi pilihan terbaik.
-
Kalau kamu demen eksplor rasa & suka main di visual, jalur cemilan bisa jadi ladang cuan yang seru.
Setelah ini, yuk kita masuk ke bagian teknisnya. Mulai dari produksi, pengemasan, sampai promosi, semua bakal kita bahas tuntas—biar kamu bisa langsung take action, bukan cuma wacana!
🧃 Kamu Mau Main Jadi Penjual atau Jadi Penyuplai? Beda Cara Mainnya!
Setelah tahu kamu mau fokus ke keripik tempe buat lauk atau cemilan, sekarang saatnya mikir soal peran kamu di rantai jualan. Kamu mau:
-
Jadi Penjual Langsung (B2C)
-
Jadi Penyuplai (B2B)
Dua-duanya oke banget, tapi cara mainnya beda, lho. Yuk kita bedah satu-satu:
🎯 Kalau Jadi Penjual Langsung ke Konsumen (B2C)
Artinya kamu berurusan langsung dengan pembeli akhir. Ini cocok banget kalau kamu suka:
-
Bangun brand sendiri
-
Jualan di online shop, Instagram, Shopee, TikTok Shop
-
Ngobrol langsung sama pelanggan
-
Nyari repeat order dari kemasan dan rasa yang bikin nagih
💡 Yang perlu kamu siapin:
-
Branding & nama produk
-
Desain kemasan yang eye-catching
-
Channel promosi (sosial media, konten video, promo bundling)
-
Waktu untuk bales chat pembeli & urus pengiriman
🛍️ Cocok buat:
Snack tempe kekinian, rasa unik, kemasan modern, volume kecil–menengah
🏪 Kalau Jadi Penyuplai ke Warung, Reseller, atau Usaha Lain (B2B)
Kalau kamu pengin fokus produksi aja, terus jual dalam jumlah besar ke pihak lain, berarti kamu cocok di jalur penyuplai. Nggak terlalu ribet promosi, tapi butuh keandalan dan stabilitas stok.
💡 Yang perlu kamu siapin:
-
Produksi konsisten & kualitas stabil
-
Harga grosir yang kompetitif
-
Kemasan yang praktis untuk dijual ulang
-
Relasi dengan warung, toko, atau agen
📦 Cocok buat:
-
Keripik tempe untuk lauk harian
-
Snack dalam plastik besar
-
Pasokan rutin ke warung, pasar, atau katering
🤝 Bisa Nggak Jadi Dua-duanya?
Bisa banget! Tapi pastikan kamu punya kapasitas produksi cukup dan manajemen stok yang rapi. Banyak pelaku usaha mulai dari satu jalur dulu, baru pelan-pelan ekspansi ke jalur lain.
Misal:
Awalnya kamu jualan ke warung, lalu karena banyak yang suka, kamu mulai buka online shop dengan branding sendiri.
Atau sebaliknya, mulai dari brand cemilan, tapi banyak reseller minta harga grosir—akhirnya kamu buka jalur suplai juga.
💸 Modal & Risiko Stok: Hal Urgen yang Sering Terlupa
Di atas kertas, semua jalur usaha kelihatan mulus. Tapi begitu mulai jalan, realitanya sering mentok di dua hal ini: modal awal dan stok barang yang nggak laku.
Ini penting banget kamu pahami sejak awal, biar nggak buru-buru produksi banyak tapi akhirnya bingung mau jual ke siapa.
🔗 Baca Juga: Modal Usaha Kebab Kecil: Mulai dari Gerobak Pinggir Jalan Sampai Cuan Serius!
🏪 Jadi Penyuplai = Modal Gede, Produksi Banyak
Kalau kamu pengin jadi penyuplai, otomatis kamu butuh:
-
Produksi dalam jumlah besar sekaligus
-
Beli bahan baku & minyak goreng dalam skala grosir
-
Stok barang siap kirim buat warung atau reseller
Masalahnya, kalau belum punya langganan tetap, bisa-bisa keripik numpuk di rumah dan kamu malah rugi di minyak, gas, dan tenaga.
⚠️ Risiko:
-
Modal awal besar
-
Kalau nggak laku, barang bisa basi atau melempem
-
Butuh ruang penyimpanan memadai
-
Harus stabil dan konsisten pasokan (biar warung tetap percaya)
🛍️ Jadi Penjual Langsung = Modal Ringan, Bisa Ambil Stok Sedikit
Kalau kamu mulai dari penjual eceran atau retail, kamu bisa lebih fleksibel:
-
Produksi sedikit-sedikit dulu (misal 10–20 bungkus)
-
Atau ambil stok dari penyuplai yang udah jalan
-
Uji rasa dan kemasan langsung ke konsumen
-
Modal bisa disesuaikan pelan-pelan sambil jalan
⚠️ Tantangan:
-
Harus aktif promosi & cari pembeli
-
Perlu waktu buat bangun kepercayaan
-
Nggak bisa langsung produksi besar, tapi bisa naik pelan-pelan
✅ Tapi keuntungannya: lebih minim risiko rugi di awal, cocok banget buat yang mau ngetes pasar dulu.
🎯 Tips Kunci: Coba Produksi Kecil & Tes Pasar
Saran paling realistis? Mulai dari skala kecil dulu.
Entah kamu mau jadi penyuplai atau penjual, coba dulu produksi 1–2 kg tempe, bungkus dalam beberapa versi (lauk vs cemilan), terus kasih tester ke tetangga atau jual di status WA.
Dari situ kamu bisa lihat:
-
Respon pasar
-
Rasa yang disukai
-
Varian kemasan yang paling laku
-
Jalur mana yang paling kamu nyaman jalanin
💰 Simulasi Modal Ringan vs Modal Besar
Biar kamu bisa lebih realistis nentuin langkah awal, kita bikin simulasi perbandingan antara modal ringan ala penjual eceran vs modal besar ala penyuplai.
| Komponen | Penjual Eceran (Retail Kecil) | Penyuplai (Skala Produksi Menengah-Besar) |
|---|---|---|
| Tempe | Rp24.000 (2 kg) | Rp1.000.000 (±100 kg) |
| Minyak Goreng | Rp20.000 | Rp300.000 (±15 liter) |
| Bumbu & Tepung | Rp10.000 | Rp200.000 |
| Kemasan | Rp15.000 (30 ziplock kecil) | Rp150.000 (100–200 bungkus besar) |
| Label / Stiker | Rp10.000 | Rp75.000 (dalam jumlah besar) |
| Gas & Operasional | Rp15.000 | Rp150.000 (untuk 2–3 hari produksi) |
| Gaji Tenaga Bantu (opsional) | – | Rp250.000 (per batch harian) |
| Total Modal Awal | ±Rp94.000 | ±Rp2.125.000 |
| Estimasi Output | 20–30 bungkus | 500–800 bungkus besar |
| Potensi Laba Kotor | Rp200.000–Rp300.000 | Rp2–4 juta (tergantung jalur distribusi & harga jual grosir) |
📌 Catatan:
-
Penjual eceran cocok buat tes pasar, minim risiko.
-
Penyuplai cocok buat yang udah punya pelanggan tetap.
📦 Strategi Kemasan Sesuai Jalur Jualan
Cara kamu bungkus keripik tempe itu penting banget. Soalnya, kemasan nggak cuma buat lindungin produk, tapi juga jadi senjata marketing visual.
📍 Untuk Jalur Lauk (B2B atau Retail Warung):
-
Pakai plastik polos transparan atau kresek bening
-
Ukuran 100–250 gram per bungkus
-
Bisa ditumpuk, disimpan di stoples warung
-
Fokus ke harga murah, bukan tampilan
📍 Untuk Jalur Cemilan (B2C Kekinian):
-
Pakai pouch zip lock atau botol plastik kecil
-
Tambahkan label brand lucu, warna cerah
-
Ukuran bisa kecil (30–80 gram), cocok buat harga Rp5.000–Rp15.000
-
Bikin kemasan yang bisa difoto, cocok buat IG/TikTok
🎯 Tips:
Kalau bisa, sesuaikan desain kemasan dengan karakter target pasar. Ibu-ibu warung suka praktis. Anak muda suka estetik.
🔗 Baca Juga: Usaha Es Buah 5000: Masih Jadi Peluang Manis di Tengah Gempuran Es Kekinian!
📈 Cara Biar Keripik Tempe Kamu Cepat Laku
Kamu udah punya produk, udah siap jualan. Tapi kalau nggak ada strategi penjualan, bisa-bisa stok malah ngendap. Nah, ini dia tipsnya:
1. Uji Rasa & Branding di Inner Circle
-
Bagiin tester ke tetangga, keluarga, teman kantor
-
Minta mereka review jujur
-
Kalau respon bagus, minta bantu sebarin lewat story
2. Mainin Sosmed Sebagai Etalase
-
Buat akun IG atau TikTok, isi dengan foto/video keripikmu
-
Kasih nama brand & tagline singkat
-
Posting behind-the-scene bikin keripik, packing, atau “reaksi orang pertama kali nyoba”
3. Jualan via WhatsApp Status & Grup
-
Ini cara klasik tapi efektif. Banyak usaha rumahan laku karena rajin update status
-
Tambah kalimat seperti: “Hari ini ready 20 bungkus, siapa cepat dia dapet yaa~”
4. Gabung ke Event UMKM atau Titip di Warung
-
Bawa sampel ke acara komunitas
-
Kerjasama sama warung/toko oleh-oleh: titip 10 bungkus dulu
-
Beri promo tester: beli 2, dapet 1 rasa baru
5. Pakai Label yang Menjual
-
Misal: “Keripik Tempe Daun Jeruk Super Renyah!”
-
Atau: “Cemilan Pedas Anti Gagal Move On 😝”
✨ Kesimpulan Ringan Sebelum Kamu Action
Usaha keripik tempe itu luas dan fleksibel. Tapi justru karena fleksibel, kamu harus tahu jalur mana yang mau kamu mainkan:
-
Mau jadi penjual? Mulai dari skala kecil, bangun branding, fokus ke visual dan interaksi.
-
Mau jadi penyuplai? Siapkan produksi skala besar, cari mitra warung, jaga kualitas & stok.
Dan yang paling penting: uji pasar dulu sebelum produksi banyak.
Jangan takut gagal—karena dari tester kecil kadang bisa jadi brand besar.
FAQ
Q: Apakah usaha keripik tempe masih menguntungkan saat ini?
A: Ya, usaha keripik tempe masih sangat menguntungkan, terutama karena fleksibilitasnya. Kamu bisa main di jalur lauk yang dibutuhkan setiap hari, atau di jalur cemilan kekinian yang punya pasar luas di anak muda. Kuncinya ada di rasa, kemasan, dan strategi jualanmu.
Q: Lebih baik jadi penjual langsung atau penyuplai keripik tempe?
A: Itu tergantung kapasitas kamu. Kalau kamu baru mulai dan ingin modal ringan, jadi penjual langsung (eceran) adalah langkah awal yang realistis. Tapi kalau kamu punya kapasitas produksi besar dan relasi dengan warung atau reseller, jadi penyuplai bisa lebih cepat skalanya dan stabil pendapatannya.
Q: Apa risiko terbesar dalam usaha keripik tempe?
A: Risiko paling umum adalah produk nggak laku dan akhirnya stok numpuk. Apalagi kalau kamu produksi besar tanpa tes pasar dulu. Maka dari itu, penting untuk mulai dari skala kecil dulu, uji rasa dan kemasan, lalu pelan-pelan scale up saat respon pasar udah bagus.
Q: Berapa modal minimal untuk mulai usaha keripik tempe?
A: Kalau kamu mau mulai sebagai penjual kecil, modal Rp100.000-an udah cukup buat beli bahan baku, minyak, dan kemasan untuk 20โ30 bungkus kecil. Tapi kalau mau langsung jadi penyuplai skala menengah, kamu butuh modal sekitar Rp2 juta ke atas untuk produksi massal.
Q: Bagaimana cara biar keripik tempe cepat laku?
A: Kunci utama ada di: rasa enak, kemasan menarik, dan promosi aktif. Gunakan media sosial seperti WhatsApp, IG, TikTok, dan jalin kerjasama titip jual di warung atau ikut event UMKM. Jangan lupa kasih tester ke orang terdekat dan minta mereka bantu sebarin!
Penulis sekaligus pelaku usaha mandiri di industri kreatif sejak 2013, dengan pengalaman di bidang konveksi, digital printing, franchise kuliner, serta strategi pemasaran berbasis SEO dan SEM.
๐ Lihat Profil Lengkap