Kalau ngomongin jajanan, ada satu aturan gak tertulis:
Makanan dari ayam tuh selalu punya tempat di hati orang Indonesia.
Mau dibikin apapun — digoreng, dibakar, digulung, dicocol — asal ayam, pasti ada yang cari.
Nah, di antara sekian banyak olahan ayam, sempol ayam mungkin gak serame fried chicken atau ayam geprek,
tapi buat ukuran jajanan murah meriah, peluangnya tetap mantep.
Bukan pendatang baru, bukan juga trend musiman.
Sempol ayam itu tipe makanan yang diam-diam stabil:
harganya masuk akal, bikinnya gampang, dan selera pasarnya luas dari bocil sampai orang tua.
Kalau kamu lagi cari ide usaha ringan yang realistis —
gampang dijual, gampang dibuat, dan gampang disukai,
sempol ayam ini beneran bisa jadi pintu masuk yang asik.
Murah Itu Cuma Separuh Cerita, Faktor Kali yang Bikin Cuan
Kalau lihat harga sempol ayam yang cuma seribuan dua ribuan,
mungkin kamu mikir, “Halah, jualan kayak gitu dapet apa sih?”
Tapi yang sering kelupaan adalah, orang beli sempol itu hampir gak pernah cuma satu tusuk.
Paling dikit tiga, lima, bahkan sepuluh tusuk langsung.
Apalagi kalau lagi rame, bawa anak, bawa temen, bawa pacar, sekali order bisa numpuk.
Jadi walaupun per tusuk kelihatan murah,
yang jalan itu faktor kali.
Misal:
-
Harga jual satu tusuk: Rp2.000
-
Satu orang beli 5 tusuk: Rp10.000
-
Kalau 20 orang mampir? Rp200.000
Bayangin kalau dalam sehari kamu dapet 50–100 pembeli.
Tanpa sadar, omsetmu ngumpul kayak sempol di tusukan.
Murah itu strategi,
tapi volume yang ngasih kamu nafkah.
Itu kenapa jualan sempol ayam itu kelihatannya receh,
tapi kalau dikelola bener, potensinya stabil dan lumayan nendang.
Lantas Untungnya Berapa?
Oke, sekarang kita ngomong lebih nyata.
Kalau jualan sempol ayam, untungnya tuh berapa sih?
Gak perlu pusing ngitung rumus-rumus berat.
Kita bahas pakai cara dagang beneran: Harga Jual – HPP = Untung per Tusuk.
Nah, sempol ayam itu, di manapun dijual, rata-rata ukurannya hampir sama:
-
Panjang ±10 cm
-
Tebal ±1–1,5 cm
-
Berat ±20–25 gram per tusuk
Artinya, kamu gak perlu repot utak-atik ukuran buat ngirit atau naikin harga.
Cukup bikin standar aja, kayak sempol-sempol yang udah ada.
🔗 Baca Juga: Tusuk Dulu, Cuan Kemudian: Cara Usaha Bakso Bakar dari Nol Sampai Laris
Estimasi HPP Sempol Ayam
Dengan patokan produksi normal:
| Komponen | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Daging ayam giling (per kg) | Rp35.000–Rp40.000 |
| Tepung campuran (terigu dan tapioka) | Rp15.000 per kg |
| Bumbu dasar (bawang, garam, lada, kaldu) | ±Rp5.000 per batch |
| Tusuk sate bambu | ±Rp20.000 per 500 tusuk |
Dalam satu kilogram daging, bisa menghasilkan ±150–200 tusuk sempol ayam, tergantung besar kecil adonan.
Sehingga, HPP (Harga Pokok Produksi) sempol ayam berada di kisaran:
-
Rp700–Rp900 per tusuk, rata-rata sekitar Rp800 per tusuk.
Harga Jual Pasaran Sempol Ayam
Harga jual sempol ayam di berbagai daerah umumnya berada di kisaran:
| Lokasi Penjualan | Harga per Tusuk |
|---|---|
| Sekolah/pinggiran kota | Rp1.000–Rp1.500 |
| Pasar tradisional | Rp1.500–Rp2.000 |
| Event bazaar / car free day | Rp2.000–Rp2.500 |
Harga standar pasar yang aman untuk dihitung adalah sekitar Rp2.000 per tusuk.
🔗 Baca Juga: Strategi Bisnis Mie Ayam Cup: Mie Asli, Rasa Nendang, Jualan Makin Gampang!
Hitungan Kasar Untung per Tusuk
Dengan harga jual Rp2.000 dan HPP sekitar Rp800, maka:
-
Rp2.000 – Rp800 = Rp1.200 per tusuk (laba kotor)
Namun perlu diingat, ada biaya operasional kecil yang harus diperhitungkan, seperti:
-
Minyak goreng
-
Gas atau listrik
-
Plastik kemasan
-
Saus sambal/saus tambahan
Jika biaya operasional ini diasumsikan sekitar Rp100–Rp200 per tusuk, maka margin bersih riilnya menjadi:
-
±Rp1.000 per tusuk.
Simulasi Sederhana
Misal, dalam sehari terjual 200 tusuk:
-
Omzet: Rp400.000
-
Laba kotor: Rp240.000
-
Laba bersih setelah operasional: ±Rp200.000
Jika konsisten 25 hari kerja dalam sebulan:
-
Total laba bersih bulanan: sekitar Rp5 juta.
🔗 Baca Juga: Usaha Burger Kaki Lima: Modal Ringan, Rasa Bintang Lima, Untung Maksimal
Pilih Lokasi, Bukan Cuma Ngikut Arus
Dalam usaha jajanan kayak sempol ayam, lokasi itu separuh kemenangan.
Kalau asal pilih tempat cuma karena “rame”, belum tentu cocok.
Yang perlu dicari adalah keramaian yang lapar dan butuh cemilan cepat.
Lokasi yang cocok buat jualan sempol ayam:
-
Dekat sekolah atau kampus: Anak-anak sekolah dan mahasiswa paling gampang tergoda cemilan murah.
-
Depan minimarket: Banyak orang mampir belanja sambil cari cemilan tambahan.
-
Pasar tradisional: Pembeli pasar suka jajan sekalian belanja.
-
Car Free Day atau event komunitas: Pengunjung CFD atau bazaar cenderung jajan sambil jalan-jalan.
Kuncinya, bukan sekadar ramai, tapi ramai orang yang santai, punya waktu, dan gak keberatan jajan receh.
Kalau lokasi utama sudah kena, peluang repeat order juga lebih tinggi.
Strategi Promo: Biar Dikenal Cepat
Baru mulai jualan?
Jangan harap pembeli datang sendiri. Harus dijemput.
Strategi promo sederhana yang realistis untuk jualan sempol ayam:
-
Gratis 1 tusuk setiap pembelian 5 tusuk
(Kelihatannya kecil, tapi efek psikologinya besar: pembeli merasa diuntungkan.) -
Bundling minuman:
Paketkan sempol + es teh / es jeruk sederhana, harga hemat. -
Open PO via WhatsApp Group:
Kirim foto sempol segar, open order buat sore/malam, sistem pre-order bikin produksi lebih terkontrol. -
Gratis sambal spesial buat pembeli pertama tiap hari:
Biar ada kesan “spesial” dan alasan untuk datang lebih cepat.
Semua strategi ini gak perlu biaya tambahan besar.
Yang dibutuhkan cuma sedikit niat lebih buat kasih pengalaman lebih ke pelanggan.
Mindset 3–6 Bulan Pertama: Nikmati Prosesnya
Banyak usaha kecil gagal bukan karena dagangannya gak enak — tapi karena mentalnya cepat runtuh.
Di 3–6 bulan pertama jualan sempol ayam, hal-hal ini perlu diingat:
-
Stabilkan rasa dan kualitas:
Rasa konsisten lebih penting daripada variasi yang aneh-aneh. -
Bangun pelanggan tetap:
Fokus cari 20–30 pelanggan setia dulu, bukan viral instan. -
Siap mental hari sepi:
Hari-hari sepi itu biasa. Yang penting, tetap buka, tetap konsisten. -
Pantau cashflow:
Jangan semua omzet dibelanjain. Sisihkan untuk bahan baku minggu berikutnya dan sedikit buat upgrade alat jualan. -
Evaluasi sambil jalan:
Lokasi kurang cocok? Coba pindah. Promosi kurang jalan? Ganti cara.
Fleksibilitas itu wajib buat usaha kecil.
Ingat:
Usaha kecil itu kayak nanam bibit.
Hari ini tanam, minggu depan belum tentu langsung panen.
Tapi kalau dirawat terus, 6 bulan kemudian bisa jadi ladang yang gak pernah berhenti berbuah.
✨ Kesimpulan Final
Usaha sempol ayam itu sederhana, tapi potensi cuannya nyata.
Bukan tentang sekadar jualan makanan murah, tapi tentang:
-
Bikin faktor kali bekerja (jual banyak tusuk, bukan cuma satu).
-
Ngerti posisi jualan yang strategis.
-
Pintar promo kecil-kecilan biar cepat dikenal.
-
Punya mindset tahan banting di bulan-bulan awal.
Kalau semua itu dijalani konsisten,
jualan sempol ayam kecil-kecilan bisa berubah jadi penghasilan stabil jangka panjang.
Mulai dari satu tusuk kecil, bangun impian besar. 🚀
Kalau mau sekalian cari inspirasi jajanan lain yang gak kalah laris, cek juga di sini ya 👉 Ide Jajanan Populer untuk Usaha!
FAQ
Q: Apakah usaha sempol ayam cocok untuk pemula?
A: Sangat cocok. Usaha sempol ayam bisa dimulai dengan modal kecil, bahan-bahan mudah didapat, dan teknik pembuatannya cukup sederhana. Selain itu, risiko kerugian juga lebih minim dibanding usaha makanan berat.
Q: Berapa modal awal yang dibutuhkan untuk jualan sempol ayam?
A: Modal awal sangat fleksibel. Dengan kisaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta, sudah cukup untuk membeli bahan baku, peralatan sederhana, dan perlengkapan jualan seperti tusuk sate dan kemasan.
Q: Berapa estimasi keuntungan dari jualan sempol ayam?
A: Estimasi keuntungan bersih per tusuk sekitar Rp1.000. Jika dalam sehari bisa menjual 200โ300 tusuk, potensi laba bersihnya bisa mencapai Rp5โ9 juta per bulan, tergantung volume penjualan dan lokasi usaha.
Q: Apakah usaha ini harus punya tempat jualan tetap?
A: Tidak harus. Usaha sempol ayam bisa fleksibel. Bisa berjualan keliling, membuka lapak di pinggir jalan, menitip di warung, atau bahkan sistem pre-order lewat WhatsApp dan media sosial.
Q: Bagaimana cara agar usaha sempol ayam cepat laris?
A: Kuncinya ada di kualitas rasa, konsistensi pelayanan, lokasi strategis, dan sedikit kreativitas dalam promo. Memberikan bonus kecil seperti gratis sambal atau paket bundling juga bisa menarik lebih banyak pembeli.
Penulis sekaligus pelaku usaha mandiri di industri kreatif sejak 2013, dengan pengalaman di bidang konveksi, digital printing, franchise kuliner, serta strategi pemasaran berbasis SEO dan SEM.
๐ Lihat Profil Lengkap