Home » Depresiasi Adalah: Pengertian, Cara Perhitungan dan Faktor yang Mempengaruhi

Depresiasi Adalah: Pengertian, Cara Perhitungan dan Faktor yang Mempengaruhi

Depresiasi adalah istilah yang sangat penting di bidang akuntansi dan bisnis. Bagi Anda yang merupakan pebisnis atau bekerja di bidang akuntansi, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah satu ini.

Dalam istilah pembukuan akuntansi, istilah ini memiliki arti penyusutan, bisa berupa penyusutan aset perusahaan dan lain sebagainya. Istilah ini tidak kalah penting dari istilah lain dalam bidang akuntansi seperti debet atau kredit.

Sebab pada praktiknya, suatu perusahaan pasti memiliki aset yang nilainya menyusut dan harus diperhitungkan dengan benar. Terutama untuk aset yang erat kaitannya dengan kegiatan operasional perusahaan.

Jika tidak diperhitungkan, maka kegiatan operasional bisa terganggu di masa depan. Jika ditilik lebih jauh, ternyata depresiasi dapat diaplikasikan pada hal yang lebih luas dan memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat umum.

Sebab, dalam suatu perusahaan depresiasi dapat berpengaruh terhadap pajak. Untuk lebih memahami mengenai depresiasi dan cara perhitungannya, simak selengkapnya berikut ini, kami sudah merangkumnya untuk Anda.

Pengertian Secara Umum Depresiasi Adalah

Secara umum, pengertian depresiasi merupakan biaya yang muncul pada aktiva tetap atau aset tetap karena mengalami penyusutan atau pengurangan nilainya secara ekonomi. Hal ini karena manfaat dan kualitasnya menyusut.

Biaya depresiasi ini bersifat tetap dalam catatan akuntansi. Artinya, jika sudah tercatat sebagai biaya, maka tidak dapat dikembalikan ke nilainya yang semula.

Biaya ini juga hanya ditujukan untuk aset atau aktiva tetap yang berwujud. Sehingga, tidak bisa digunakan untuk aset yang tidak berwujud.

Jika dilihat dari pengertiannya, depresiasi adalah hal yang berkaitan dengan masa pakai suatu aset tetap. Dalam suatu bisnis, perusahaan akan mengalokasikan biaya depresiasi untuk membeli aset baru.

Sehingga, manfaat dan kegunaan dari aset tersebut akan kembali maksimal kembali. Dengan demikian, kegiatan bisnis tidak akan mengalami kendala jika tiba-tiba aset tetap tersebut tidak berfungsi.

Aset Tetap Dalam Dana Depresiasi

Aset tetap sebenarnya dibagi menjadi dua, yaitu yang berwujud dan tidak berwujud. Contoh dari aset tetap berwujud yang dapat dialokasikan biaya depresiasi adalah:

  1. Gedung

Gedung merupakan salah satu aktiva tetap yang digunakan sebagai tempat usaha. Gedung akan mengalami pelapukan dari waktu ke waktu, sehingga nilai manfaatnya semakin menurun.

Oleh sebab itu, gedung masuk ke dalam daftar yang mendapat alokasi biaya depresiasi. Penggunaan biaya tersebut untuk renovasi, peluasan gedung, bahkan pembelian gedung baru.

Tanpa adanya alokasi biaya penyusutan, perusahaan akan kesulitan jika suatu waktu gedung tempat usaha rusak. Bahkan biaya depresiasi aset ini harus ada diurutan utama.

  1. Perlengkapan Usaha

Aset tetap yang harus diperhitungkan biaya penyusutannya adalah perlengkapan usaha. Contohnya adalah kursi, meja, dispenser, LCD, dan lain sebagainya.

Perlengkapan usaha ini sangat berperan penting terhadap kelancaran proses bisnis. Oleh sebab itu agar proses bisnis tidak terganggu, maka perlengkapan usaha juga harus terjamin ketersediaannya.

  1. Kendaraan

Pada beberapa kantor atau tempat usaha, kendaraan sangat penting dalam menjalankan bisnisnya, misalnya saja pabrik yang secara aktif mengirim produknya, dan lainnya. Kendaraan sangat jelas nilainya akan menyusut dari waktu ke waktu.

Bahkan, tidak jarang mengalami kerusakan secara tiba-tiba, oleh sebab itu, alokasi dana depresiasi adalah penting untuk aset tetap satu ini. Perusahaan harus memiliki anggaran untuk biaya perawatan dan lainnya.

  1. Mesin

Pada perusahaan yang bergantung pada kegiatan produksi, penggunaan mesin tentunya sangat penting sekali. Sama halnya seperti kendaraan, mesin juga mengalami penyusutan nilai yang signifikan.

Terutama dalam kinerjanya yang akan menurun. Oleh sebab itu, diperlukan biaya penyusutan untuk perawatan atau mengganti dengan mesin baru.

Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Depresiasi

Besar kecilnya alokasi dana depresiasi ini dipengaruhi berbagai macam faktor yang sesuai jenis barangnya. Hal ini yang menyebabkan besarnya dana penyusutan tidak sama antara barang satu dengan lainnya.

Depresiasi adalah proses pengalokasian dana dan bukan menilai aktiva, namun dana yang dialokasikan dipengaruhi oleh aktiva tersebut. Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi nilai dana penyusutan berdasarkan jenis aktiva tetapnya:

  1. Biaya (Cost)

Biaya yang dimaksud adalah biaya perolehan. Atau biaya yang digunakan untuk mendapatkan aktiva tersebut hingga dapat digunakan dalam proses bisnis.

Dengan kata lain adalah harga dari barang dan biaya lain-lain yang digunakan saat proses instalasi aktiva tersebut. Biaya ini menjadi dasar perhitungan dalam menentukan biaya depresiasi.

  1. Masa Manfaat (Useful Life)

Manfaat merupakan perkiraan usia produktif dari aktiva yang dimaksud. Artinya adalah waktu maksimal aktiva tersebut bisa memberikan manfaat kepada kegiatan bisnis Anda.

Setiap jenis barang memiliki masa produktifnya masing-masing, ada yang hanya beberapa tahun hingga puluhan tahun. Untuk menentukan masa manfaat ini, manajemen dalam suatu perusahaan harus memperhatikan berbagai macam aspek.

Misalnya adalah tujuan penggunaan, pemeliharaan, dan kerentanan terhadap kerusakan. Cara paling mudah adalah dengan menilik pengalaman masa lalu untuk mengambil data-data dari aktiva serupa.

  1. Nilai Sisa (Residual Value)

Nilai sisa dalam depresiasi adalah estimasi nilai yang dimiliki aktiva tersebut dan masa manfaatnya. Nilai sisa dipertimbangkan berdasarkan bagaimana perusahaan akan melepaskan aktiva tersebut.

Cangkupan dari nilai ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan saat menggunakan aktiva tersebut. Nilai sisa dapat berupa hasil penyewaan atau penjualan aktiva yang dapat digunakan untuk perputaran usaha.

Cara Perhitungan Nilai Dana Depresiasi

Perhitungan depresiasi dibedakan menjadi beberapa jenis metode, yaitu metode garis lurus, beban menurun, aktivitas, khusus, menurun ganda, dan skema unit produksi. Keenamnya memiliki tujuan sama, tapi faktor yang digunakannya berbeda.

Metode garis lurus dihitung berdasarkan hasil pengurangan pendapatan dengan nilai residu, kemudian dibagi usia ekonomis. Metode ini sangat lazim digunakan oleh berbagai perusahaan.

Hal ini dikarenakan kemudahan dan kesederhanaan dalam perhitungannya. Sayangnya, hasil perhitungan tersebut tidak valid karena catatan asetnya sama disetiap tahun dan periode.

Metode berikutnya adalah beban menurun yang mengacu pada jumlah pendapatan per tahun dan saldo menurun. Beban penyusutan yang dikenakan akan lebih besar di masa periode awal dan lebih kecil di periode berikutnya.

Metode aktivitas mengacu pada penggunaan aset tetap selama masa produktifnya. Jadi, faktor yang mempengaruhinya adalah usia aset tetap.

Saldo menurun ganda pada depresiasi adalah meliputi residu dan dihitung pada periode awal. Pada metode perhitungan ini tidak bergantung pada kurs, tapi akan terus dikalikan dengan basis yang disusutkan.

Sedangkan untuk depresiasi khusus, adalah mengacu pada manfaat penurunan aset. Terdapat dua tipe metode khusus, yaitu kelompok dan campuran. Tipe kelompok lebih disukai oleh perusahaan.

Maksudnya adalah perhitungan aset secara masing-masing berdasarkan kemiripan. Sedangkan campuran disesuaikan dengan fleksibilitas akuntan agar lebih mudah.

Metode terakhir adalah skema unit produksi, yang merupakan metode paling rinci. Perhitungan diwajibkan dalam satuan waktu jam dan satuan berat kilogram, berikut adalah rumus yang digunakan pada masing-masing metode perhitungan:

  1. Garis lurus = (Harga pendapatan – nilai sisa) : usia ekonomis
  2. Beban menurun = (Harga pendapatan – nilai sisa) x nilai penyusutan
  3. Aktivitas = ((Harga pendapatan – nilai sisa) x masa pakai) : usia produktif
  4. Menurun ganda = (Harga pendapatan : usia ekonomis) x 2
  5. Khusus = secara umum bisa menggunakan rumus mana saja.
  6. Skema unit produksi = (Harga pendapatan – nilai sisa) x (penggunaan aset : usia)

Depresiasi menjadi anggaran yang tidak boleh diabaikan oleh perusahaan. Sebab, depresiasi adalah kunci dari keberlangsungan operasional suatu bisnis.

Bagikan artikel:
error: Content is protected !!